Tampilkan postingan dengan label RELIGIUS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RELIGIUS. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Maret 2012

Niat Itu;;;;;

Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khattab radhiallahuanhu, dia berkata, “Saya mendengar Rasulullah shallahu`alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya .Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena menginginkan kehidupan yang layak di dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.”
(Riwayat dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhari dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naisaaburi di dalam dua kitab Shahih, yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang).
*Yang dimaksud perbuatan di sini adalah amal ibadah yang membutuhkan niat.
*Niat adalah keinginan dan kehendak hati
Catatan:
1.  Hadits ini merupakan salah satu dari hadits-hadits yang menjadi inti ajaran Islam. Imam Ahmad dan Imam Syafi’i berkata: Dalam hadits tentang niat ini mencakup sepertiga ilmu. Sebabnya adalah bahwa perbuatan hamba terdiri dari perbuatan hati, lisan dan anggota badan, sedangkan niat merupakan salah satu bagian dari ketiga unsur tersebut. Diriwayatkan dari Imam Syafi’i bahwa dia berkata,” Hadits ini mencakup tujuh puluh bab dalam fiqh. Sejumlah ulama bahkan ada yang berkata,” Hadits ini merupakan sepertiga Islam.2. Sebab dituturkannya hadits ini, yaitu: ada seseorang yang hijrah dari Mekkah ke Madinah dengan tujuan untuk dapat menikahi seorang wanita yang konon bernama: “Ummu Qais” bukan untuk meraih pahala berhijrah. Maka orang itu kemudian dikenal dengan sebutan “Muhajir Ummi Qais” (Orang yang hijrah karena Ummu Qais).
Kandungan Hadist:
1. Niat merupakan syarat layak/diterima atau tidaknya amal perbuatan, dan amal ibadah tidak akan menghasilkankan pahala kecuali berdasarkan niat (karena Allah ta’ala).
2. Waktu pelaksanaan niat dilakukan pada awal ibadah dan tempatnya di hati.
3. Ikhlas dan membebaskan niat semata-mata karena Allah ta’ala dituntut pada semua amal shaleh dan ibadah.
4. Seorang mu’min akan diberi ganjaran pahala berdasarkan kadar niatnya.
5. Semua perbuatan yang bermanfaat dan mubah (boleh) jika diiringi niat karena mencari keridhaan Allah maka dia akan bernilai ibadah.
6. Yang membedakan antara ibadah dan adat (kebiasaan/rutinitas) adalah niat.
7. Hadits di atas menunjukkan bahwa niat merupakan bagian dari iman karena dia merupakan pekerjaan hati, dan iman menurut pemahaman Ahli Sunnah Wal Jamaah adalah membenarkan dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan perbuatan.
*diambil dari Hadits Arba’in Nawawiyah
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
419011 388890201121582 100000018151442 1538501 400117415 n Niat..Niat,sesuatu yang tersembunyi di dalam hati,dimana tak seorangpun tahu kecuali diri kita sendiri dan Allah. Menyamakan yang terlisankan dengan yang ada di hati kadang bukanlah sesuatu hal yang mudah. Karena itulah tiap saat kita perlu memperbaiki niat, apapun itu yang kita lakukan. Kalau kata seorang saudara, niat itu ada di awal, pertengahan dan di akhir. Bisa jadi di awal niat kita sudah bagus, siapa tahu di tengah-tengah niat kita tak lagi lurus?
Maka, perbaikan niat menjadi sebuah keniscayaan yang harus kita lakukan kapan saja, terlebih ketika kita merasa ada yang mulai bergeser dengan perasaan di hati kita, sekecil apapun perubahan itu.
Ukhti, semoga Allah memberi kita kemampuan agar kita mampu terus memperbaiki niat, agar apapun yang kita lakukan dapat bernilai ibadah di hadapan Allah. aamiin

Hati yang Qana’ah..


430488 190015124434294 170478163054657 219176 1844116732 n Hati yang Qanaah..
“Telah beruntung orang yang masuk Islam, diberi kecukupan rezeki, dan Allah menjadikannya qana’ah terhadap apa yang diberikan kepadanya” (Riwayat Muslim)
Sesungguhnya, qana’ah memiliki kaitan yang sangat erat dengan sikap zuhhud dan ridha. Oleh karena itu banyak ahli bahasa yang mendefinisikan qana’ah dengan keridhaan, dan orang yang qana’ah adalah orang yang ridha.
Ibnu Sunni dalam kitabnya al-Qana’ah mendefinisikan, al-qana’ah adalah ridha dengan pembagian. Dikatakan bahwa seseorang bersikap qana’ah jika dia ridha. Maka qana’ah adalah engkau meridhai apa yang Allah bagikan untukmu di dunia ini, baik sedikit ataupun banyak, dan engkau memasrahkan segala urusanmu kepada-Nya,sedangkan engkau tahu bahwa Dia lebih tahu dan lebih sayang terhadapmu dari pada dirimu sendiri.
Dan bukanlah orang yang qana’ah; orang yang mengadukan Penciptanya dan Pemberi rezekinya kepada makhluk, bahkan pula orang yang melihat-lihat kepada apa yang bukan miliknya, atau orang yang marah jika tidak dapat menggapai tingkatan-tingkatan dunia yang diangan-angankan, karena terkadang yang baik baginya berlawanan dengan yang diangan-angankannya.Syekh Salim al-Hillai berkata, “Ketahuilah wahai saudaraku yang diberi taufik untuk menempuh jalan petunjuk, sesungguhnya qana’ah adalah ridha terhadap pembagian Allah. Dari sikap qana’ah ini aan terlahir sikap menjaga kehormatan diri, yaitu tidak mencari-cari atau menginginkan apa yang ada di tangan orang lain, dan tidak mengeluhkan kepada selain Allah yang maha besar dan maha tinggi. Danhal itu dikelilingi degan pagar kesederhanaan (sikap pertengahan), tidak bakhil atas dirinya karena takut membelanjakan harta, dan tidak pula terlalu mengulurkan tangannya secara berlebihan. Maka barangsiapa diberi taufik kepada hal tersebut dia akan mendapat keberuntungan dan tempat kembali yang paling baik”
~dikutip dari Majalah Sakinah,Vol10.No9, Bahagia dengan Qana’ah~
Dahulu sebelum menikah, kukira memiliki sifat qana’ah itu mudah, tapi ternyata tak semudah yang kubayangkan sebelumnya, dibutuhkan kelapangan hati dan kesabaran yang lebih. ahh,tentu saja karena dalam pernikahan itu ujian yang Allah berikan semakin berwarna dalam berbagai rupa. Jadi sudah menjadi tugas kita sebagai seorang istri harus menanamkan salah satu sifat ini di dalam diri kita sendiri juga pada suami dan keluarga kita.
Ukhti, semoga Allah senantiasa memberi kita petunjuk agar bisa memiliki sifat qana’ah ini terhapap apapun yang Allah beri untuk kita dan untuk keluarga kita.. aamiin